Pengakuan Pencuri Pakaian Dalam Wanita, Diduga Mengalami Kelainan Seksual, Seperti Apa?

pencuri pakaian dalam wanita di Banyuwangi diduga festish
Pencuri pakaian dalam wanita & barang bukti. Perilakunya
mengarah pada kelainan seksual fetish. (via Jatimnow.com)


Pemuda berinisial MK (24), warga Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi diamankan warga setelah tepergok mencuri pakaian dalam wanita di tempat penjemuran.

Pemuda itu diamankan warga sekitar pukul 22.00 WIB, Sabtu (5/3/2022) setelah tepergok mengambil pakaian dalam wanita di Dusun Sidorejo Wetan, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran.

Saat tertangkap basah, pelaku membawa sejumlah celana dalam dan bra wanita yang dicurinya. Setelah mengakui perbuatannya, pelaku dan barang bukti diserahkan ke Polsek Gambiran.

Kanit Reskrim Polsek Gambiran, Ipda Agus Purnomo menyebut, dalam pemeriksaan diduga pelaku mempunyai kelainan seksual.

"Pelaku mencuri barang-barang itu langsung dari jemuran warga," jelas Agus.

Menurut Agus, dalam pemeriksaan pelaku mengaku tidak pernah menjual pakaian dalam wanita yang dicurinya.

"Pelaku hanya ingin memegang dan mencium pakaian-pakaian dalam wanita yang diambilnya itu. Ngakunya dia nafsu dan terangsang. Setelah dipegang dan dicium, pakaian dalam itu lalu dibuang," jelas Agus seperti dilansir Jatimnow.com.

Perilaku Fetish


Dalam ilmu psikologi, perilaku nyeleneh MK menunjukkan ciri-ciri yang dapat digolongkan sebagai fetish.

Dilansir dari Merdeka.com, menurut kajian Psychology Today, fetish adalah kelainan seksual yang menyebabkan penderitanya memiliki gairah seksual terhadap objek tidak hidup alias benda mati, seperti kain jarik, celana, pakaian dalam, sepatu, dan benda mati lainnya. 

Selain itu, objek fetish juga dapat terjadi pada bagian tubuh yang sangat spesifik, seperti tangan, kaki, atau rambut, untuk mencapai gairah seksual. 

Orang dengan gangguan fetish sering menggunakan benda-benda tersebut saat berhubungan seksual. Bahkan tak jarang benda mati ini juga dipakai untuk menggantikan hubungan yang sesungguhnya dengan orang lain.

Penderita fetish akan merasakan rangsangan saat menyentuh objek yang diinginkannya atau bahkan hanya membayangkannya. 

Kelainan seksual ini sebenarnya adalah hal yang normal dari bagian seksualitas. Tetapi, masalah dapat timbul saat gairah seksual membutuhkan objek yang akhirnya memaksakan kehendak orang lain.

Kelainan seksual fetish pada umumnya dialami pria dibandingkan dengan wanita. Kelainan ini termasuk dalam kategori umum gangguan paraphilic, yang menyebabkan penderita memiliki ketertarikan seksual pada benda mati atau bagian tubuh di luar stimulasi secara genital.

Secara umum perilaku fetish memiliki beberapa ciri-ciri berikut :

• Memiliki fantasi terhadap objek yang tidak hidup atau bagian tubuh manusia non-genital

• Fantasi terjadi setidaknya selama 6 bulan

• Terjadi secara intensi dan berulang

• Mengalami distres atau gangguan pada aktivitas sehari-hari atau pekerjaan

Penyebab Fetish


Penyebab fetish hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa ahli teori beranggapan bahwa fetish berkembang dari pengalaman anak-anak, di mana suatu objek dikaitkan dengan bentuk gairah atau kepuasan seksual yang sangat kuat.

Sehingga, dapat dikatakan bahwa fetish adalah kelainan seksual yang bisa bermula dari masa kanak-kanak, remaja, hingga berkembang dengan kondisi terkait masturbasi atau pubertas. Selain itu, ada beberapa kondisi yang sering diduga sebagai pemicu seseorang memiliki gangguan ini, di antaranya:

• Kesulitan mengekspresikan perasaan dan kesulitan memulai hubungan dengan orang lain.

• Mengalami trauma masa kecil, seperti kerap mendapatkan pelecehan seksual dari orang lain.

Cara Mencegah Fetish


Kelainan seksual ini harus mendapat penanganan dari dokter spesialis atau psikiater. Adapun pengobatan yang paling efektif adalah pengobatan jangka panjang. 

Pendekatan yang berhasil mencakup berbagai bentuk terapi serta terapi pengobatan, seperti SSRI atau terapi deprivasi androgen.

Selaian itu, ada beberapa cara mencegah fetish yang bisa dilakukan ialah sebagai berikut:

• Melakukan terapi hormon untuk mencegah dorongan seksual yang menyimpang dan berbahaya.

• Menjalankan proses psikoterapi dengan mengubah perilaku dan menerapkan pola hidup sehat.

• Melakukan konseling secara rutin.

• Menghindari segala kegiatan yang meningkatkan risiko terjadinya kelainan seksual.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Adbox

@templatesyard