Mengenal Geredoan, Tradisi Mencari Jodoh Suku Osing Banyuwangi


Suasana Desa Macan Putih (via Instagram @yu.ni.ar)

Ada tradisi unik dalam mencari jodoh di kalangan masyarakat Suku Osing di Banyuwangi. Istilahnya Geredoan, yakni tradisi masyarakat mencari jodoh terutama di wilayah Kecamatan Kabat dan Kecamatan Rogojampi.

"Gredo" sendiri artinya menggoda. Tradisi ini berlaku buat mereka yang gadis, perjaka, duda atau janda. 

Tradisi ini biasanya diadakan bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini dilaksanakan di kantong-kantong Suku Osing.

Geredoan pada awal mulanya digelar di kantung-kantung pemukiman Suku Osing di Banyuwangi, seperti di Kecamatan Giri (Desa Boyolangu dan Penataban), Kecamatan Glagah (Desa Banjarsari, Glagah, Bakungan, Keniten, dan Mojopanggung) dan Singojuruh. 

Namun belakangan diketahui hanya dilakukan setahun sekali di Desa Kabat, Dadapam, dan Rogojampi. Sementara di beberapa tempat lain dilakukan secara teratur, bahkan ada panitia penyelenggaranya. 

Dalam pelaksanaan tradisi Geredoan, setiap keluarga diminta menyiapkan tepung, beras, gula, dan bahan lain untuk membuat kue dan tumpeng. 

Bahan tersebut kemudian diletakkan di rumah gedek (berdinding bambu) dekat masjid. Sambil memasak, para pemudi di dalam bilik itu mengikuti sholawat dan ceramah agama.

Sementara itu para lancing (jejaka) membuat peralatan dan hiasan upacara di luar rumah. Sembari bekerja, mereka mengintip kesibukan para gadis lewat lubang gedek. 

Jika ada gadis yang ditaksir, dilanjutkan dengan acara ngobrol. Tapi mereka tidak bicara langsung melainkan dibatasi dengan sekat dinding dari bambu itu. Makin malam dilanjutkan dengan komunikasi lebih serius, yaitu meminta kesediaan perempuan menerima cintanya.

Apa tandanya? Si jejaka memasukkan batang lidi janur lewat lubang gedek. Jika si pemudi mematahkan ujung lidi, maka pertanda cintanya ditolak. 

Sebaliknya bila dibentuk bulatan kecil mirip daun waru berarti cintanya diterima. Kalau sudah begini, kemudian dilanjutkan dengan berbalas pantun.

Keesokan harinya, tumpeng dan kue basah seperti nagasari, onde-onde, pisang goreng, lemper, bikang, dan sate telur puyuh ditaruh dalam wadah persegi dari bambu. 

Di bagian tengahnya ditaruh batang pisang untuk menancapkan telur bertusuk 99. Kemudian, dibawa ke masjid untuk dinikmati bersama-sama, sambil bershalawat.

Tradisi Gredoan di Desa Macan Putih, Kecamatan Kabat, Banyuwangi sampai saat ini masih terus terjaga dan berlangsung sangat meriah. Ratusan warga baik dari Desa Macan Putih ataupun dari desa lain beramai-ramai mengunjungi desa ini.

Bahkan, ada beberapa atraksi yang ditampilkan serta pawai keliling desa yang menampilkan beberapa hiburan seperti atraksi tarian tongkat api, music daerah, hingga karnaval boneka yang dibuat oleh masyarakat Desa Macan Putih.

Sedangkan di Desa Gitik, Kecamatan Kabat, acara Geredoan diadakan secara ala kadarnya. Tidak selalu di bulan Rabiulawal. 

Di rumah-rumah yang digelar tradisi ini, pintunya dibuka lebar. Namun untuk ke pelaminan tidaklah mudah, karena bisa saja orang tua tak setuju.

Ada solusi lain, yaitu kawin nyolong atau kawin lari, hanya dalam arti positif, yakni dinikahkan dengan resmi. 

Soal jodoh, Suku Osing yakin selama janur belum melengkung, masih ada kesempatan pihak lain untuk memperistri. Umumnya, perkawinan mereka juga awet.


 Selengkapnya baca Suara 



Demikianlah info Mengenal Geredoan, Tradisi Mencari Jodoh Suku Osing Banyuwangi

Terima kasih telah berkunjung ke Info Banyuwangi, semoga bermanfaat bagi Anda.


loading...

0 Response to "Mengenal Geredoan, Tradisi Mencari Jodoh Suku Osing Banyuwangi"