Bupati Ipuk Tegaskan, Kawah Ijen Sepenuhnya Masuk Banyuwangi


Polemik garis batas wilayah Banyuwangi dan Bondowoso
Idjen Hoogland / Topografische Inrichting 1920.peta yang menunjukan
batas Banyuwangi dan Bondowoso (via Kumparan)


Polemik tentang kepemilikan Kawah Ijen kembali mencuat. Bermula dari pernyataan Bupati Bondowoso, Salwa Arifin, yang mengklaim bahwa batas wilayah antara Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi sudah disepakati.

Kesepatakan itu dicapai usai Kementerian Dalam Negeri memfasilitasi pertemuan dua kepala daerah Banyuwangi dan Bondowoso yang dipimpin langsung oleh Plh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Heru Tjahjono, di Surabaya, Kamis (3/6/2021).

Melansir Times Indonesia (04/6/2021), menurut Bupati Bondowoso, KH Salwa Arifin, batas-batas teritorial yang telah disepakati ada di beberapa lokasi. Salah satunya titik perbatasan Kawah Ijen. 

Menurutnya, untuk sisi tepi bibir Kawah Ijen sebelah barat menjadi wilayah teritorial Bondowoso. Sementara sisi bibir sebelah timur Kawah Ijen masuk wilayah Banyuwangi.

Menanggapi klaim sepihak Kabupaten Bondowoso, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani tidak tinggal diam.

Dilansir laman Banyuwangikab.go.id (30/6/2021), Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa pihaknya terus memperjuangkan terkait batas daerah di Kawah Ijen, dengan tetap menyatakan keinginan bahwa semua wilayah Kawah Ijen masuk Banyuwangi, bukan sebagian menjadi wilayah kabupaten lain.

Menurut Ipuk, hingga detik ini, belum ada penetapan terkait batas daerah di kawasan tersebut dari Kemendagri sebagai otoritas yang berhak menetapkan batas daerah.

”Jadi begini, pertama, saya jelaskan bahwa kami sudah kirim surat ke Kemendagri, bahwa kita tetap ingin Ijen sepenuhnya masuk Banyuwangi. Saat ini juga kita akan susulkan surat tambahan dengan argumentasi-argumentasi yang detail ke Kemendagri, yang intinya kita ingin Ijen tetap sepenuhnya masuk Banyuwangi, bukan 1/3 daerah lain dan 2/3 Banyuwangi meskipun itu tetap lebih besar Banyuwangi,” ujar Ipuk seusai rapat paripurna di Gedung DPRD Banyuwangi, Rabu (30/6/2021).

Ditambahkan Ipuk, tim Pemkab Banyuwangi juga sudah bertemu dengan tim Kemendagri pada pertengahan Juni 2021 di Jakarta, dan Kemendagri akan kembali melakukan mediasi.

”Kemendagri sudah mengakui adanya surat dari Pemkab Banyuwangi bahwa tidak ada kesepakatan terkait batas daerah, dan akan memediasi ulang semuanya. Soal diplomasi dan argumentasi teknisnya, kita tidak ingin perang di media dengan instansi pemerintah lain. Intinya, belum ada penetapan Kemendagri terkait itu,” ujarnya.

Kartu Pos Belanda Pondok Kawah Idjen di Banyuwangi 1900an (via Kumparan)


Ipuk menambahkan, pihak eksekutif berterima kasih kepada DPRD Banyuwangi yang terus mendorong agar Ijen tetap masuk Banyuwangi. 

”Apa yang disampaikan teman-teman DPRD Banyuwangi menjadi vitamin bagi eksekutif untuk terus memperjuangkan ini. Jadi nanti bila memungkinkan, kami juga mengundang pimpinan Dewan untuk mengetahui secara langsung perjuangan diplomasi kita ke pemerintah provinsi dan Kemendagri,” jelasnya. 

Meski belum ada penetapan batas wilayah, Ipuk mengaku telah melakukan upaya-upaya pengembangan Ijen.

“Belum lama ini, kami bertemu dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas untuk penyediaan air bersih di kawasan Paltuding (kaki Gunung Ijen),” jelas Ipuk.

“Jadi Kementerian PUPR melalui BBWS Brantas akan membangun fasilitas air bersih sehingga pengunjung makin nyaman. Selama ini salah satu yang dikeluhkan pengunjung kan air bersih yang terbatas, nah ini sudah mulai ada solusi, tahun ini digarap BBWS Brantas,” imbuhnya.

Kepala Bagian Pemerintahan Banyuwangi Nurhadi mengatakan, terkait proses penetapan batas wilayah, saat ini proses mediasi terus dilakukan Kemendagri.

Dia mengungkapkan, tanggal 16 Juni 2021, telah diadakan pertemuan antara tim Pemkab Banyuwangi dan Kemendagri di Jakarta, dan dinyatakan akan ada mediasi kembali.

“Semua belum final. Belum ada penetapan Mendagri terkait penetapan batas daerah tersebut,” ujarnya.

Dia memaparkan sejumlah dokumen otentik yang menjadi acuan bahwa Kawah Ijen masuk Banyuwangi. 

Diantaranya berupa sejumlah peta, antara lain Residen Besoeki Afdeling Banyuwangi 1895; Java Resn Besoeki 1924 Blad XIIIC (Pengukuran 1917 - 1918 dan 1922);  Java Resn Besoeki 1924 Blad LXXXVIII B (Alg.No. XVIII-58B) (Pengukuran 1917 – 1918);  Peta Idjen Hoogland 1920 (Pengukuran Dinas Topografi Belanda 1917 – 1918); Java Resn Besoeki 1925 Blad XCIV A (Pengukuran  1920 dan 1922);  Java & Madura 1942 Sheet No 59/XLIII-A, US Army Map Service; Peta Water Suplly Banyuwangi 1945; Jaaverslag Van Den Topographischen Dienst in Nederlandsch-Indie.

Batas Teritori Kawah Ijen Masalah Lama

Kartu Pos Belanda pembangunan Irigasi Kawah Idjen di Banyuwangi 1900an (via Kumparan)


Dilansir dari Kumparan (19/10/2017), sejatinya perebutan status kepemilikan Kawah Ijen yang berada di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso ini sudah berlangsung sejak tahun 2006. 

Dan hingga kini belum ada Keputusan SK Menteri Dalam Negeri yang  menentukan tapal batas kedua kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso.

Jika Kabupaten Banyuwangi berpegang pada dokumen peta-peta lama di jaman penjajahan Belanda yang menegaskan wilayah Kawah Ijen termasuk Banyuwangi, sementara pemerintah Bondowoso mengakui Kawah Ijen berdasarkan peta milik Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional tahun 2000. 

Dalam peta tersebut, Gunung Ijen itu dibagi dua, milik Banyuwangi dan Bondowoso. Bahkan di sebutkan di situ bahwa peta ini bukan menyangkut peta batas wilayah.

Agar permasalahan tersebut tidak berlarut-larut, maka diharapkan Kemendagri tidak berlama-lama lagi menunda untuk memutuskan batas-batas teritorial antara kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, khususnya yang menyangkut Kawah Ijen.


Demikianlah info Bupati Ipuk Tegaskan, Kawah Ijen Sepenuhnya Masuk Banyuwangi

Terima kasih telah berkunjung ke Info Banyuwangi, semoga bermanfaat bagi Anda.


loading...

0 Response to "Bupati Ipuk Tegaskan, Kawah Ijen Sepenuhnya Masuk Banyuwangi"

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online