Mengenal Ritual Dalam Tradisi Mudun Lemah Warga Osing Banyuwangi


Tradisi Mudun Lemah (via Jatimtimes.com)

Tradisi mudun lemah (turun tanah) untuk menandai anak berusia 7 bulan bagi masyarakat Osing di Banyuwangi masih terjaga dengan baik. Pemandangan itu terlihat di Kampung Dukuh, Desa/Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (13/2/2021).

Pada pelaksanaan tradisi ini, juga didapati banyak suguhan di antaranya jenang lintang, suruh godhong nangka dan Gendhing Petek-Petek Suku.

Sanusi Marhaedi alias Kang Usik, Tokoh Masyarakat Osing setempat menjelaskan adanya jenang lintang dan ubo rampe atau sajen ritual, hingga suruh daun nangka mengandung makna masyarakat Kampung Dukuh, Desa Glagah siap menerima warisan budaya leluhur.

Warisan leluhur ini memiliki nilai tinggi seperti bintang, siap menjaga dan melestarikan agar tidak punah di tengah serbuan budaya luar.

"Masyarakat kami guyub rukun dalam menjaga tradisi warisan leluhur agar tidak ada aral melintang dalam mengarungi kehidupan termasuk tradisi mudun lemah atau turun tanah bagi bayi yang berusia 7 bulan," jelasnya.

Selanjutnya Kang Usik menuturkan dalam rangkaian acara tradisi masyarakat Osing anak yang berumur 7 bulan dinaikkan pada anak yang lebih besar atau menggambarkan naik kuda yang diiringi dengan gendhing sakral "Petek-petek suku" atau pijat-pijat kaki.

Tahapan ini merupakan bentuk kearifan lokal dan kesadaran proses belajar sejak dini yang harus dilalui seorang anak yang membutuhkan bantuan orang lain dalam kehidupannya.

Menurutnya anak kecil akan melalui proses merangkak, berdiri, berjalan, berlari dan seterusnya.

Sedangkan iringan musik angklung yang melantunkan gendhing "petek-petek suku",  intinya mengajarkan anak butuh dipijat agar tambah kuat.

Selain itu dalam gendhing sakral tersebut ada ajaran luhur yang perlu diikuti oleh anak-anak dalam hidup dan kehidupannya.

Antara lain lewat syair, "Ojo Siro Mlaku Ring Dalan Pinggir Nawi-nawi Siro Dicethol Ulo, Kesuk Ojo Siro Demen Omong Sembur-sembur gara-garai Wong Liyo Ngersulo," yang intinya mengajarkan dalam bergaul orang jangan suka menyindir orang lain agar orang lain tidak sakit hati, imbuhnya.

Lalu ada syair "Ojo Siro Lewat Ring Dalan Tengah Nawi-nawi siro Kesandung Beling, Ojo Siro Dadi Seneng Fitnah Garai Wong Liyo Muring," sebuah ajaran agar manusia jangan suka menebar fitnah yang  akan mengakibatkan orang lain marah.

Sementara Miskawi, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Banyuwangi mengatakan, kegiatan tradisi mudun lemah yang dilaksanakan oleh warga merupakan salah satu bentuk upaya merawat atau uri-uri warisan budaya leluhur yang patut mendapatkan apresiasi.


 Selengkapnya baca Jatimtimes 



Demikianlah info Mengenal Ritual Dalam Tradisi Mudun Lemah Warga Osing Banyuwangi

Terima kasih telah berkunjung ke Info Banyuwangi, semoga bermanfaat bagi Anda.


loading...

0 Response to "Mengenal Ritual Dalam Tradisi Mudun Lemah Warga Osing Banyuwangi"

loading...