Banyuwangi Raih Penghargaan Inovasi Pengendalian Inflasi, Ini Kunci Suksesnya


Keberhasilan Kabupaten Banyuwangi mengendalikan laju inflasi membuahkan penghargaan dari pemerintah pusat sebagai daerah paling inovatif dalam pengendalian inflasi.

Penghargaan diserahkan Mendagri Tjahjo Kumolo kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi yang dihadiri Presiden Joko Widodo, jajaran menteri Kabinet Kerja, dan Gubernur BI Agus Martowardojo di Jakarta, Kamis (27/9/2017).

Banyuwangi raih penghargaan daerah paling inovatif pengendalian inflasi.

Bupati Anas menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat yang telah mendukung daerah mengendalikan inflasi. ”Terbukti selama Ramadan dan Lebaran lalu, harga-harga stabil. Ini bukti sinergi pusat dan daerah yang baik,” ujar Anas.

Anas mengatakan, inflasi mendapat perhatian serius. Dengan perekonomian Banyuwangi yang terus menanjak, inflasi harus dijaga agar daya beli rakyat tidak tergerus. 

”Pendapatan per kapita warga kami meningkat pesat, namun inflasi harus terjaga. Alhamdulillah, inflasi Banyuwangi masih terus terendah. Termasuk hingga Juni 2017, inflasi kami terendah dibanding daerah-daerah lain di Jatim. Inflasi kami sebesar 2,1 persen, sedangkan rata-rata Jatim 2,97 persen,” jelas Anas.

Salah satu poin keunggulan Banyuwangi adalah pengembangan ekonomi pedesaan melalui sinergi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog).


Pembuktian itu terdapat pada beberapa momen ekonomi warga yang krusial mampu dikendalikan. Walau saat momen ramadan dan lebaran sekalipun, yang biasanya terjadi lonjakan harga sembako tajam. Namun, posisi ini terekam aman dan terkendali.

Inflasi menjadi perhatian serius dari pemerintah daerah Banyuwangi. Terlebih saat perekonomian Banyuwangi yang terus menanjak, kondisi inflasi dipertahankan agar tetap terjaga. Sehingga dapat menimbulkan pengaruh positif dari segi daya beli rakyat yang terus stabil.

Menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, saat ini pendapatan per kapita warga meningkat pesat. Akan tetapi harus juga diimbangi dengan nilai inflasi yang terus terjaga.

"Alhamdulillah, inflasi Banyuwangi masih terus terendah. Termasuk hingga Juni 2017, inflasi kami terendah dibanding daerah-daerah lain di Jatim. Inflasi kami sebesar 2,1 persen, sedangkan rata-rata Jatim 2,97 persen,” kata Anas.

Kunci yang kini diterapkan daerah ini dalam kaitannya menjaga inflasi yakni sinergi BUMDes dan Bulog di Banyuwangi. Kondisi tersebut menjadi upaya ampuh dalam memperkuat ekonomi desa sekaligus menjaga daya tahan ekonomi rakyat.

Hal ini tentunya juga tak terlepas dari adanya kucuran dana ke desa yang menjadi penopang utamanya.

”Dana untuk desa baik dari APBN maupun APBD sangat besar, dan itu harus bisa mendorong penguatan ekonomi masyarakat, termasuk melalui penguatan kapasitas BUMDes. Dari sana lahir sinergi BUMDes dan Bulog,” ujar Anas.

Saat ini, lanjut Anas, terdapat 35 BUMDes di Banyuwangi yang sudah bersinergi dengan Bulog. Bulog memasok kebutuhan pokok bagi warga desa lewat BUMDes. Semuanya dijual dengan harga yang lebih kompetitif dibanding harga pasar. Rantai distribusi bahan pangan pun terpangkas, sehingga harga bisa lebih murah.

”Kan selama ini kita melihat daya beli warga desa bisa terancam karena fluktuasi pendapatan. Salah satu strategi untuk menjaga daya beli itu adalah dengan memastikan distribusi kebutuhan pangan bisa terjaga dengan lancar lewat BUMDes,” terangnya.

Sinergi keduanya, imbuh Anas, jelas mampu menjawab kebutuhan dan tantangan sekaligus. Di antaranya, memperlancar distribusi bahan pangan untuk mengendalikan harga dan menjaga daya beli warga, sekaligus memberdayakan serta memperkuat ekonomi pedesaaan.

”Artinya daya beli rakyat bisa terjaga, ekonomi desa kuat, dan secara keseluruhan daerah bisa mandiri secara bertahap. Kita akan terus tingkatkan jumlah BUMDes yang meneken kerja sama resmi dengan Bulog,” pungkasnya. (Beritajatim.com)

loading...

0 Response to "Banyuwangi Raih Penghargaan Inovasi Pengendalian Inflasi, Ini Kunci Suksesnya"