Polres Banyuwangi Terapkan E-tilang


Visi dan misi Kapolri dalam membangun kepercayaan publik dengan  program Profesional, Modern dan Terpercaya (Promoter) terus digalakkan dan dilaksanakan oleh seluruh jajaran di bawahnya. Tak terkecuali yang dilakukan jajaran Satlantas Polres Banyuwangi dengan menerapkan E-tilang atau tilang elektronik.

E-tilang Banyuwangi.
Sejumlah pengendara yang terjaring razia di depan kantor Samsat Banyuwangi (via Timesjatim.com)
E-tilang merupakan sistem pembayaran denda tilang secara online. Tujuannya memberantas pungutan liar (pungli) yang kerap dilakukan oleh oknum polantas.

Seperti dijelaskan Bintara administrasi (bamin) Bripka Hendro Ivan Wahyudi, "Sistem E-tilang ini mengurangi hubungan langsung antara pelanggar lalin dengan petugas polisi. Ini sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan publik yang lebih mudah dan berbasis teknologi informasi (IT)".

Bripka Hendro Ivan Wahyudi (Jatimtimes.com)
Menurut Hendro, e-tilang adalah aplikasi mobile yang berfungsi untuk melakukan pembayaran denda tilang secara daring. Sistem e-tilang akan menghindari kemungkinan adanya pungli berupa kesepakatan antara polisi dengan pelanggar lalu lintas agar tidak ditilang dengan memberikan sejumlah uang.

Dalam alur transaksi dalam e-tilang, saat terjadi pelanggaran lalu lintas yang dilakukan pengendara atau pengemudi, petugas lantas akan melakukan penilangan. Kemudian, petugas memasukkan data pelanggaran ke dalam aplikasi e-tilang sehingga pelanggar mendapatkan nomor registrasi.

"Pelanggar yang memiliki aplikasi e-banking atau m-banking bisa langsung membayar denda tilang melalui aplikasi tersebut. Jika sudah membayar denda tilang, maka saat itu juga SIM atau STNK bisa langsung dikembalikan oleh petugas kepada pelanggar. Jadi, pelanggar langsung bisa melanjutkan perjalanannya," ungkapnya.

Sebelumnya, jika ada pelanggar yang tidak mau mengakui kesalahannya dan ingin melaksanakan sidang, maka diberi tilang warna merah. Sedangkan tilang biru diperuntukkan bagi pelanggar yang mengakui kesalahannya dan mau menyelesaikan pembayaran di BRI.

Namun, jika pelanggar memakai sistem ini, denda yang diberlakukan adalah denda maksimal. Kendati demikian, proses pengadilan tetap dilakukan. Sehingga, kalau pelanggar sebelumnya membayar melebihi denda yang seharusnya, kelebihan uang akan dikembalikan.

Setelah adanya Perma Nomor 12 Tahun 2016, semuanya diarahkan ke BRI dan tidak ada tilang merah. Namun, jika ada pelanggar yang menginginkan sidang, tetap masih dilayani.

Protapnya, tiga hari sebelum sidang, berkas harus sudah diserahkan ke pengadilan negeri melalui kejaksaaan. Dan hakim di PN bisa langsung memberikan putusan versteg.

Pihak Polres Banyuwangi mengingatkan kepada masyarakat yang melanggar agar saat ditangani petugas lantas supaya meminta nomor BRI virtual account (BRIVA).

"Nomor BRIVA itu nomor pembayaran dari pelanggar. Jika ada kelebihan pembiayaan, bisa langsung dihubungi dan diberi nomor pengembalian yang bisa diambil di BRI di wilayah pelanggar berdomisili. Dan hindari menitipkan denda melalui petugas," jelas Hendro.

Namun, seiring penerapan e-tilang, masih banyak masyarakat yang kurang memahami prosedur tetap pemberlakuan "aturan baru" tersebut. Untuk itu jajaran satlantas Banyuwangi tak henti-hentinya melakukan sosialisasi sebagai layanan kepada masyarakat agar tidak lagi disibukkan dengan proses tiang yang sebelumnya justru membikin ribet masyarakat yang melanggar. (Jatimtimes)

loading...

0 Response to "Polres Banyuwangi Terapkan E-tilang"