Menpar Bantu Pembangunan Seribu Homestay di Banyuwangi


Banyuwangi akan bangun 1000 homestay.
Pengembangan pariwisata di Kabupaten Banyuwangi terus mendapat dukungan dari pemerintah pusat. Kali ini, Kementerian Pariwisata (Kempar) mendorong pembangunan 1.000 homestay (rumah singgah) untuk para wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi.

Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya, mengatakan, kementeriannya mendorong pembangunan homestay di daerah-daerah wisata untuk memberi alternatif tempat menginap bagi wisatawan.

"Kita bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) dan BTN ( Bank Tabungan Negara) untuk mewujudkan 1.000 homestay di Banyuwangi," ujar Arief saat memberikan sambutan pada acara halal bihalal Diaspora Banyuwangi, Jumat (8/7).

Telah ditunjuk 17 desa/kelurahan sebagai area pengembangan homestay di Banyuwangi. Desa yang ditunjuk merupakan desa-desa yang memiliki potensi wisata dan kearifan lokal. Desa tersebut antara lain Kelurahan Temenggungan (Kecamatan Banyuwangi), Gombengsari (Kalipuro), Desa Bakungan dan Kampunganyar (Glagah), Banjar dan Tamansari (Licin), Kandangan (Pesanggaran), Sumberasri (Purwoharjo), dan Kalipait (Tegaldlimo).

Untuk menegaskan komitmen ini, 17 kepala desa dan lurah tersebut menandatangani perjanjian kesanggupan untuk mengembangkan homestay yang berwawasan lingkungan. Penandatangan perjanjian tersebut disaksikan oleh Menpar, Arief Yahya dan Bupati Banyuwangi, Abullah Azwar Anas.

Pemerintah desa akan mendorong masyarakatnya untuk berperan serta menyediakan homestay di wilayahnya. Mereka akan diedukasi tata kelola homestay serta berbagai pengetahuan tentang dunia pariwisata.

"Desainnya harus mencerminkan kearifan lokal. Intinya bangunan yang khas Indonesia," tutur Arief.
Sejumlah bank BUMN akan digandeng untuk membiayai program tersebut. Para warga desa yang akan membangun homestay akan dibantu pembiayaannya dari bank tersebut.

"Biayanya murah sekali. Skemanya, cukup membayar uang muka 1 persen, dengan bunga fixed 5 persen, dengan tenor hingga 20 tahun," ujar menteri yang merupakan putra asli Banyuwangi ini.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, optimistis pihaknya bisa mengembangkan seribu homestay di Banyuwangi. Desain homestay didorong mengadopsi arsitektur khas Suku Using (masyarakat asli Banyuwangi).

"Ini sebagai wujud pariwisata berbasis masyarakat yang dikembangkan di Banyuwangi. Artinya, pengembangan wisatanya melibatkan dan dinikmati masyarakat," paparnya.

Menurut dia, warga Banyuwangi sudah mulai merasakan imbas positif dari geliat pariwisata Banyuwangi saat ini. Sehingga, program pengembangan homestay ini bakal direspons positif oleh warga.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banyuwangi, yang mencerminkan besaran perekonomian daerah, terus meningkat dari dari Rp 32,46 triliun (2010) menjadi Rp 60,05 triliun (2015).
Dengan besaran perekonomian yang terus membesar, dampak ke pendapatan per kapita masyarakat otomatis terdongkrak.

Pendapatan per kapita masyarakat Banyuwangi melonjak dari Rp20,8 juta (2010) menjadi Rp 37,53 juta (2015).

Geliat pariwisata juga ditunjukkan lewat lonjakan jumlah penumpang di Bandara Blimbingsari Banyuwangi yang mencapai 1.308 persen dari hanya 7.826 penumpang (2011) menjadi 110.234 penumpang (2015).

"Dengan mengembangkan homestay, warga bisa menyewakannya ke wisatawan, sehingga bisa menambah pendapatan," tuturnya.

Selama ini, lanjut Anas, Pemkab Banyuwangi sudah memberdayakan warga untuk mengembangkan homestay secara bertahap. Warga yang mengembangkan homestay dilatih dengan melibatkan instruktur dari sejumlah hotel berbintang di Banyuwangi dan Bali.

"Warga dilatih manajemen penginapan yang bagus, termasuk yang terakhir ada pelatihan penyajian makanan khas Barat seperti burger agar bisa memenuhi permintaan wisatawan asing yang menginap," pungkasnya. (Beritasatu.com)

loading...

0 Response to "Menpar Bantu Pembangunan Seribu Homestay di Banyuwangi"