Melihat Serunya Arisan Jamban di Banyuwangi


Arisan jamban di Banyuwangi.
ilustrasi
Jika biasanya arisan identik dengan lotrean berhadiah uang, perhiasan atau barang istimewa lainnya, di Banyuwangi ada arisan berhadiah jamban. Dengan bayar Rp 40 ribu per bulan selama setahun, setiap peserta arisan yang memenangkan kocokan undian akan dibangunkan jamban baru, sehat dan aman dirumahnya.

"Anggotanya dikoordinir per dusun, pesertanya masyarakat yang tidak punya jamban minimal ada 30. Arisan per orang bayar Rp 40 ribuan dan dapetnya Rp 1,2 juta. Yang dapat kocokan arisan hasilnya diberikan pada kader pujasera untuk dibangunkan jamban sehat," kata Kepala Puskesmas Tampo Tatiek Setyaningsih di Puskesmas Tampo, Sabtu (19/3/2016).

Ya, arisan jamban salah satu program inovasi mendobrak kebiasaan buruk warga yang masih suka buang air besar (BAB) tidak pada tempatnya. Seperti di Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Desa ini dulu dikenal sebagai desa paling jorok lantaran warganya memiliki kebiasaan BAB di pinggiran sungai sepanjang tempat tinggalnya.

Saat awal sosialisasi pujasera, kebiasaan buruk BAB di sungai menjadi tantangan awal. Pasalnya meskipun memiliki jamban, warga tetap tidak enggan membiasakan hidup bersih. Tapi setelah Puskesmas Tampo, Cluring, menyebar kader pujasera, aktif sosialisasi dan menerapkan program Pujasera (pergunakan jamban sehat, rakyat aman) serta mengaktifkan arisan jamban di 4 wilayah kerjanya. Seperti, Desa Sembulung, Desa Tampo, Desa Kaliploso dan Desa Plampangrejo, gerakan ini menuai hasil.

Dari total 8.045 KK, yang memiliki jamban awalnya hanya 1.034 kini meroket menjadi 5.030 keluarga. Selain itu di wilayah Tampo sudah terwujud 2 desa ODF. Dan untuk membimbing serta melibatkan masyarakat dalam program pujasera ini, pihak Puskesmas juga membentuk kader-kader pujasera yang aktif mengkontrol kebiasaan bersih warga.

"Sebelumnya hanya ada 1.034 keluarga yang memiliki jamban, kini sudah menjadi 5.025 keluarga atau meningkat 386 persen. Tahun ini juga empat desa di Puskesmas Tampo bisa ODF semuanya. Semua keluarga akan memiliki jamban pribadi," papar Tatiek.

Salah satu calon peserta arisan jamban, Suratin (41), warga Desa Sembulung, Dusun Talunrejo mengaku senang dengan adanya program arisan ini. Sebab, sejak lahir hingga saat ini, ia tidak pernah memiliki jamban di rumahnya. Beralasan keterbatasan biaya dan kebiasaan BAB di sungai dijadikan alasan mengapa ia dan keluarga betah tak memiliki jamban.

"Belum pernah punya jamban karena sudah kebiasaan di sungai. Ya, keterbatasan biaya kalau ada arisan bisa lebih ringan. Enak kan kalau ada  jamban ga usah lari-lari ke sungai lagi," tandasnya.

Program pujasera ialah salah satu program inovasi unggulan Pemkab Banyuwangi yang diapresiasi oleh tim KemenpanRB. Deputi Bidang Pelayanan Publik, Mirawati Sudjono saat mengunjungi Puskesmas Tampo menyebutkan, program pujasera jadi salah satu inovasi pelayanan publik yang sudah terbukti berhasil.

Tiga alasan indikator utama seperti dampak kesehatan masyarakat, keterlibatan warga serta perubahan kebiasaan berhasil dipenuhi. Pihaknya berharap, kegiatan serupa bisa diaplikasikan di tempat lainnya, karena masalah seperti ini juga terjadi di luar Banyuwangi.

"Ada 3 alasan, program ini memberikan dampak yang luar biasa. Pada indikator ukuran ada dampak pada kesehatan masyarakat, melibatkan masyarakat dan kelompok lainnya, perubahan budaya dan mindset yaitu dengan arak-arakan. Atas 4 alasan itulah Pujasera dipilih jadi salah satu dari 99 inovasi terbaik di Indonesia," tandasnya. (Detik.com)

loading...

0 Response to "Melihat Serunya Arisan Jamban di Banyuwangi"