Rahasia Bisnis Beras Organik Ahmed Tessario


Industri makanan sehat organik di Indonesia kian berkembang, namun hal ini belum disadari oleh para petani yang disebabkan kurangnya edukasi dan saprodi pertanian (sarana produksi pertanian) sehingga produktivitas lahan semakin menurun.
Sejumlah permasalahan tersebut membuat Ahmed Tessario bertekad untuk menggagas program beras organik.

Pada tahun 2011, Ahmed diajak oleh rekannya untuk mengembangkan program beras organik di Banyuwangi. Untuk tahap awal ia melakukan sosialisi mengenai beras merah yang belum familiar di kalangan petani. Hal itu tentunya tidak mudah bagi pria berusia 26 tahun ini, membangun kepercayaan terhadap petani salah satu kesulitannya, untuk itu ia berinisiatif melakukan percobaan dengan menjalin kerjasama dengan 17 petani yang lahan dipakai seluas 0,1 Ha setiap petaninya.

Tahun 2015, program ini sudah berjalan secara swadaya dan sudah berkembang di 7 kecamatan di Banyuwangi dengan luas lahan beras organik keseluruhan 128 ha dan 99 petani yang bekerja sama serta mengasilkan produksi sebanyak 5,2 ton/ha. Produk beras organik yang dihasilkan adalah beras merah organik, beras putih organik, beras coklat organik, beras merah putih organik dan beras hitam organik.

Omset penjualan yang dicapai ketika memulai program ini sebesar Rp 127,5 juta per tahun dan kini pada tahun 2015 omset per tahun naik menjadi sekitar Rp 1,758 miliar dengan rata-rata penjualan Rp 250 juta -.300 juta tiap bulan dari keseluruhan produk.

Bagaimana dia bisa melakukan itu? Dengan memberikan petani benih dan pupuk secara cuma-cuma yang artinya baru dibayarkan saat panen tiba. Menurutnya, hal itu justru menjadi masalah tersendiri baginya karena terlalu percaya diri. Ahmed mengalami over stok hingga 100 ton. hal tersebut membuatnya kebingungan untuk membayarnya, jalan keluar yang diambilnya dengan menjual beberapa aset yang dimilikinya mobil, rumah dan mengajukan pinjaman ke sebuah bank sebesar Rp 500 juta.

Memasarkan beras organik tentu tidak mudah, pria lulusan Intitut Teknologi Sepuluh November di Surabaya ini memasarkannya melalui apotek-apotek lokal, toko lokal, minimarket lokal. Cukup berhasil di wilayah Banyuwangi, ia pun melakukan ekspansi ke sekitar wilayah Banyuwangi seperti Surabaya, Malang dan beberapa kota lainnya di Jawa Timur hingga ke Jakarta, Bali, Jambi dan Kalimatan Timur.

Kini, tak hanya menjual di toko lokal, menyasar pasar middle low juga dijadikan salah satu strategi pemasaran beras organik yang diberi merek Seblang Banyuwangi. Caranya dengan melakukan penyuluhan yang mana beras organik terkenal mahal dan sehat melalui kader-kader posyandu di Puskesmas. Selain itu ia juga memberikan pelayanan cek darah gratis ke masyarakat dan memberikan materi mengenai beras putih yang menjadi salah satu pemicunya penyakit diabetes. Hasilnya 50% dari mereka melakukan pembelian secara berulang.

Walaupun sudah mempunyai 32 mitra bisnis yang tersebar mayoritas di pulau Jawa, ia mengaku tantangan terbesarnya dalam menjalannya bisnisnya ini yaitu menemukan orang-orang untuk dijadikan distributor. Kedepannnya ia juga ingin bisnis ini menargetkan untuk mendistribusikan produk beras organik ke seluruh indonesia pada tahun 2016 dan menginisiasi eksport pada pertengahan tahun 2016.

Dengan permintaan yang kian meningkat tentu Ahmed juga menyeimbangkan dengan menamajemen produktifitas lahan, dengan adanya metode dari Prof. Endah ia melakukan edukasi kepada petani sehingga lahan bisa dipakai untuk penanaman organik dalam jangka satu tahun masa peralihan yang sebelumnya harus memakan waktu tiga hingga 4 tahun untuk lahan dari non organik ke organik.
Adapun, edukasi yang diberikan kepada petani mulai dari membuat pupuk sendiri, mengajarkan cara menanam yang baik hingga cara panen agar menghasilkan padi yang berkualitas. Menurutnya beras organik yang bagus tidak tahan kutu, bisa dijelaskan bila berasnya disimpan dalam satu bulan kondisinya masih baik itu pertanda beras tersebut bukan organik tapi non organik. (Swa.co.id)

loading...

0 Response to "Rahasia Bisnis Beras Organik Ahmed Tessario"