Gandrung Sewu 2015, Fragmentasi Sejarah Banyuwangi


Tampilan penari Gandrung dalam "Podo Nonton" (foto: Detik.com)
Festival Gandrung Sewu 2015 berlangsung meriah. Sebanyak 1.208 penari gandrung menari bersama di pinggir Pantai Boom menjelang sunset. Mereka menampilkan pertunjukan kolosal sejarah Banyuwangi di Pantai Boom Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (26/9/2015). Pertunjukan yang mengambil tema "Podo Nonton" ini berhasil menyedot ribuan perhatian masyarakat Banyuwangi.

"Podo Nonton" merupakan salah satu tembang wajib yang mengiringi tarian gandrung dengan makna tentang perjuangan. Selain tarian gandrung, ada treatikal perjuangan gandrung bersama dengan masyarakat Banyuwangi mengusir penjajah Belanda. Selama satu jam, ribuan penonton yang menyaksikan Gandrung Sewu dibuat terkesima dengan pertunjukkan yang tergelar.
Kalau daerah mau maju harus menjadikan kebudayaan bagian dari pembangunan. Banyuwangi bisa menjadi contoh bagi daerah lain
Festival diawali dengan masuknya ribuan Gandrung ke venue dari segala penjuru. Lalu disusul dengan fragmen Podo Nonton yang menceritakan bagaimana makmurnya rakyat Banyuwangi sebelum kedatangan Belanda, hingga Belanda datang merusak tatanan kehidupan rakyat. Selanjutnya dalam fragmen dipertontonkan perjuangan rakyat Banyuwangi yang melawan penjajahan Belanda.
Selama fragmen berlangsung, ribuan penari Gandrung itu tetap menari menjadi latar pertunjukkan. Sesekali mereka membentuk formasi di tengah pertunjukan sambil memainkan kipas warna-warninya. Di akhir cerita, ribuan Gandrung tersebut menjelma menjadi lautan ombak, yang memvisualisasikan para pejuang Banyuwangi yang di akhir peperangan mereka dibuang ke Selat Bali.

"Gandrung sewu telah menjadi daya tarik wisata tersendiri bagi daerah. Namun even ini tidak hanya menjadi sebuah atraksi wisata, tapi sekaligus sebuah konsolidasi budaya yang mampu membangkitkan partisipasi segenap rakyat Banyuwangi dalam memajukan budaya daerah," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, saat sambutan didepan para undangan dan penonton, Sabtu (26/9/2015) petang.

Menurut Anas, ini menjadi sebuah bukti kebangkitan perkembangan budaya. Bupati berharap budaya Banyuwangi akan terus menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri dan ikut mengharumkan budaya Indonesia di mata dunia.

Sementara itu Direktur Jendral Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kacung Marijan yang turut menghadiri pertunjukkan Gandrung Sewu mengatakan Banyuwangi telah berhasil membangun sebuah ekosistem kebudayaan.

Ekosistem ini terbentuk lewat keterlibatan banyak pihak mulai sekolah, sanggar, hingga pelaku wisata dalam perhelatan ini. Festival Gandrung bahkan juga mampu menyumbangkan perputaran ekonomi bagi masyarakat.

"Ekosistem Ini menjadi dasar bagi pengembangan budaya yang kuat," kata Kacung.
Selain itu, lanjut Kacung, Banyuwangi juga dinilai berhasil meletakkan kebudayaan sebagai bagian penting dari pembangunan. Kebudayaan tidak dipinggirkan tapi dikedepankan, menjadi pondasi sekaligus arah bagi pembangunan.

"Kalau daerah mau maju harus menjadikan kebudayaan bagian dari pembangunan. Banyuwangi bisa menjadi contoh bagi daerah lain," ujar Kacung.

Dalam kesempatan itu, Bupati Anas dan Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kacung Marijan juga menyerahkan penghargaan kepada dua penari Gandrung senior, yaitu Poniti (66 tahun) dan Kusniah (60 tahun). Penghargaan ini diberikan atas dedikasi dua seniman tersebut dalam melestarikan tari Gandrung.

Detik.com, Kompas.com

loading...

0 Response to "Gandrung Sewu 2015, Fragmentasi Sejarah Banyuwangi"