90 Penjual Jamu Gendong Banyuwangi Dilatih Meningkatkan Kualitas Produk


Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mengadakan pelatihan bagi pedagang jamu untuk meningkatkan kualitas produk mereka.
     
Pada pelatihan yang diselenggarakan atas kerja sama dengan Direktorat Obat Asli Indonesia pada BPOM RI itu sebanyak 90 penjual jamu gendong dan 53 industri kecil obat tradisional (ikot) dibimbing mengenai teknik membuat jamu yang higienis di Banyuwangi, Jawa Timur, Senin.
     
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan bahwa pelatihan itu dilaksanakan dalam upaya meningkatkan kualitas mutu dan keamanan produk makanan dan minuman di Banyuwangi.
     
Menurut dia, jamu sebagai warisan tradisi leluhur Indonesia mempunyai potensi pasar yang sangat besar. Karena itu pihaknya memfasilitasi para pelaku usaha jamu untuk dididik dan dilatih bagaimana cara mengemas dan memproduksi jamu yang baik.
     
"Pemasaran jamu bisa diintegrasikan dengan pengembangan sektor pariwisata yang ada di Banyuwangi. Tentu saja dengan kemasan yang lebih bagus dan jaminan proses produksi yang higienis," ujarnya.
     
Menurut dia, minuman jamu ini akan menjadi minuman unggulan bagi wisatawan di Banyuwangi. Bahkan pihaknya telah membiasakan pegawai di Pemkab Banyuwangi minum jamu yang menyehatkan, setiap Jumat.
     
"Dinas terkait nantinya bakal memfasilitasi pelaku usaha jamu untuk bisa hadir di event-event wisata dan destinasi wisata. Botol yang digunakan penjual jamu gendong kan persis dengan botol yang biasa digunakan penjaja jamu eceran. Kalau perlu itu diganti botol dengan model yang lebih unik dan bagus," katanya.
     
Dirinya juga akan meminta dinas terkait untuk memfasilitasi botol-botol baru yang lebih menarik, seperti ada tempelan stiker khas Banyuwangi. Tahun depan, stiker seperti itu bisa dibagikan ke penjual jamu gendong.
     
Penjual jamu gendong yang sebagian besar ibu-ibu ini diberi bekal pengetahuan memproduksi jamu yang higienis dan menyehatkan, oleh Direktur Pengobatan Herbal Indonesia, Mauizzati Purba. 
     
Mauzzati menyampaikan jamu gendong yang notabene produk minuman kesehatan segar tidak boleh menggunakan bahan-bahan kimia.
     
"Obat-obatan tidak boleh dicampur ke minuman kesehatan. Jamu gendong sebaiknya sekali buat langsung habis. Tidak boleh diinapkan karena khasiatnya sudah berubah," katanya.
     
Selain itu, pedagang jamu juga harus memperhatikan keamanan minuman. Artinya, selama proses pembuatan jamu ibu-ibu harus menggunakan masker penutup mulut agar bakteri yang ada dalam tubuh manusia tak berpindah ke jamu. 
     
Begitu juga dengan peralatan yang digunakan harus higienis dan steril. Misalkan, botol kaca yang akan digunakan sebagai wadah jamu harus disterilkan dengan direbus air panas.
     
Sementara itu, untuk bimbingan teknis kepada ikot, peserta yang terdiri atas para pemilik industri kecil jamu tradisonal diberi pelatihan pemilahan bahan-bahan untuk jamu kemasan. Selain itu, ada pelatihan ekstraksi dan mengambil sari bahan asli untuk dijadikan bahan obat herbal yang siap dikemas sebagai kapsul atau tablet. 
     
"Yang penting untuk obat herbal atau jamu kemasan ini harus mengerti keamanan pangan. Jangan sampai dicampur bahan kimia obat ataupun narkoba," kata Dr Renat Yosi Bayu Murti, dari BPOM.

Antarajatim.com

loading...

0 Response to "90 Penjual Jamu Gendong Banyuwangi Dilatih Meningkatkan Kualitas Produk"