Arief Yahya, Menteri Pariwisata Dari Banyuwangi


Arief Yahya, Menteri Pariwisata dari Banyuwangi.
Barangkali tidak banyak yang memperkirakan bahwa Arief Yahya ditunjuk sebagai Menteri Pariwisata dalam Kabinet Kerja Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Pasalnya, lelaki kelahiran Banyuwangi, 2 maret 1961, ini jauh dari sorotan media. 

Sebelumnya dia adalah CEO PT Telekomunikasi Indonesia. Jabatan itu diembannya sejak 11 Mei 2012, menggantikan posisi Rinaldi Firmansyah.

Jokowi punya alasan sendiri mengapa menunjuk Arief sebagai Menteri Pariwisata. Arief adalah sosok yang mumpuni di bidang pemasaran.

"Arief Yahya adalah seorang profesional. Beliau juga penerima anugerah Marketer of the year 2013," jelas Presiden Jokowi pada saat mengumumkan Kabinet Kerja di halaman belakang Istana Merdeka, Jakarta. 

Kendati tak memiliki latar belakang tentang industri pariwisata, Arief Yahya dianggap memiliki pengetahuan mumpuni tentang information communication technology ( ICT).

"Potensi pariwisata di Indonesia sangat besar dan tak perlu diragukan lagi. Namun, sekarang yang penting bagaimana mengintegrasikan kekayaan alam dan teknologi," ujarnya setelah perkenalan Kabinet Kerja, Minggu (26/10).

Soal target, Arief mengatakan Presiden Jokowi akan memberi arahan program kerja bagi semua menteri besok. Nantinya, dia akan meningkatkan pemasaran dan branding objek-objek pariwisata di seluruh nusantara.

"Negara tetangga bisa menarik lebih dari 20 juta wisatawan asing. Saya yakin kita juga bisa mengingat besarnya potensi sumber daya alam dan budaya Indonesia," katanya.

Nama Arief Yahya sebelumnya sempat disebut-sebut akan mengisi posisi Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) karena ia memiliki pengetahuan tentang information communication technology ( ICT). Namun ternyata Arief justru ditunjuk sebagai Menteri Pariwisata karena keahlian pemasarannya.

Arief lulus dari SMA/SMPP 1 Banyuwangi (kini dibagi menjadi dua sekolah, yaitu SMA Negeri 1 Glagah dan SMA Negeri 1 Giri) pada 1979. Ia dibesarkan dalam keluarga sederhana.  Ayahnya, H. Said Suhadi, berprofesi sebagai pedagang dan ibu, Hj Siti Badriya aktif dalam organisasi keagamaan. Arief mengambil teladan dari kedua orang tuanya, terutama dari ibu. Ibunya tak pernah menunjukkan wajah muram namun selalu menunjukkan perjuangan tanpa henti dan selalu memberi yang terbaik kepada anak-anaknya.

Arief meniru keteladanan ibunya dengan selalu berjuang dengan sepenuh hati dalam pendidikannya. Berbekal itulah, Arief berhasil menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung jurusan Teknik Elektro.

Hal utama yang dia pelajari dari ibunya adalah dalam menjalani sesuatu yang terpenting adalah ketekunan. Berkat ketekunan itu Arief lulus dari ITB dengan nilai yang sangat memuaskan, yang dia persembahkan kepada orang tuanya.  Setelah lulus dari ITB, Arief memulai karir di PT Telkom dan berhasil menjadi salah satu karyawan Telkom yang terpilih mengikuti program Master Telematika (Software & Telecommunications)  di Surrey University, Inggris.

Arief Yahya yang baru saja menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Padjajaran, Bandung, ini senantiasa memegang semboyan hidupnya, yakni "Success without plan is luck. Success with plan is achievement…!". Mungkin ini salah satu faktor penting yang membuatnya sukses dalam pendidikan dan karir.

Keterlibatan Arief Yahya terhadap kemajuan kota kelahirannya Banyuwangi diwujudkan dalam bentuk dukungan PT Telkom dalam pengembangan Banyuwangi menuju digital society , antara lain berupa pemilihan Kabupaten Banyuwangi sebagai percontohan nasional program digital society oleh PT Telkom, pemasangan ribuan Wifi, dan pembangunan taman digital di Pantai Boom. Pada Hari Kebangkitan Nasional 2013, Arief Yahya pernah menjadi guru sehari di almamaternya SMA Negeri 1 Glagah dalam rangka Gerakan Direksi Mengajar untuk memberi motivasi pada generasi muda.

Dengan terpilihnya Arief Yahya sebagai Menteri Pariwisata tentunya diharapkan akan semakin mendukung pengembangan pariwisata Banyuwangi.

REKAM JEJAK ARIEF YAHYA
Selama hidupnya, Arief banyak menorehkan prestasi. Pada 2002, dia menjadi The Best Kandatel (Kantor Daerah Telekomunikasi), Pemasaran telepon terbaik Telkom Jakarta, Gema Telkom Award 2 kali, Telkom Jakarta Barat.

Di tahun yang sama, Arief diganjar penghargaan atas keberhasilan kecepatan Recovery Fastel, akibat bencana banjir di Kawasan Segitiga Emas Jakarta untuk Telkom Jakarta Barat.  Kandatel Terbaik Malcolm Baldrige National Quality Award, 614, Score terbaik Nasional, Telkom Jakarta Barat.

Pada 2003, dia menjadi Kepala Divisi Regional (Kadivre) Terbaik The Best Sponsor, Aktualisasi Budaya Korporasi The Telkom Way 135, Kadivre VI Kalimantan. The Best DIVRE in Corporate Culture Actualisation The Best Unit, Aktualisasi Budaya Korporasi The Telkom Way 135, DIVRE VI Kalimantan.

Arief juga mendapat penghargaan sebagai Pencetusan Exclusive Service Area (ESA), berupa penyediaan dan penyelenggaraan Fastel di daerah terpencil oleh pihak ke III, di Tanjung Redeb, sebanyak 1000 sst. Zero Accident Award Penghargaan Kecelakaan Kerja Nihil 2003 dari Menakertrans, Telkom Kalimantan. Divre Terbaik, Rocky of The Year 2003, Untuk Management Flexi, DIVRE VI Kalimantan. 

Sejak tahun 2005 ia menduduki jabatan sebagai Direktur Enterprise dan Wholesale Telkom Indonesia. Ketika itu, Arief memperoleh beberapa penghargaan. Antara lain Satyalencana Pembangunan di tahun 2006 atas keberhasilan dalam Peningkatan Pelayanan Prima di Kalimantan dan Jawa Timur dari Presiden RI.

Arief masuk daftar "25 Business Future Leader" versi majalah Swa pada 2012. Ia juga terpilih sebagai penerima Economic Challenge Award 2012 kategori Industri Telekomunikasi, penerima Anugerah Business Review 2012 dari majalah Business Review dan terakhir terpilih sebagai The CEO BUMN Inovatif Terbaik 2012. Pada 2013, Arief Yahya meraih penghargaan "Marketeer of the Year" 2013 atas perannya dalam dunia pemasaran.

Sejak 2012 ia menjabat sebagai Direktur Utama PT Telkom. Di bawah kepemimpinannya, bisnis Telkom dan anak perusahaannya terus berkembang sampai ke luar negeri.

Pada 2012, Telkom (PT Telekomunikasi Indonesia Tbk) dengan anak perusahaannya PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin), mengembangkan bisnisnya ke Timor Leste. Telin juga mengembangkan sayap ke Australia.

Prestasi yang diraih Arief ini juga berbanding dengan prestasi yang diraih Telkom. Pendapatan Telkom sampai dengan September 2012 tercatat sebesar Rp 56,864 triliun. Sedangkan labanya sebesar Rp 14,11 triliun.

TANTANGAN
Kini di bawah kendali Arief, Kementerian Pariwisata mendapatkan tugas berat. Apalagi, Pemerintahan Jokowi-JK menargetkan meraih 20 juta wistawan mancanegara (wisman) sampai 2019. Untuk mencapai target tersebut jelas diperlukan kerja keras.

Dalam dua tahun terakhir pariwisata Indonesia tumbuh di atas angka 8 persen hingga jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai kisaran 8-9 jutaan. Tahun 2014 Kemenparekraf hanya mematok target kunjungan wisman 9,5 juta orang sampai tutup tahun. Sedangkan tahun lalu tercatat sebanyak 8,7 juta wisman mengunjungi Indonesia sampai tutup tahun.

Menurut mantan Menparekraf Mari Elka Pangestu untuk meraih angka 20 juta wisman, sektor pariwisata harus tumbuh rata-rata 16 persen per tahun bahkan lebih. Itu berarti dua kali lipat dari pertumbuhan saat ini.

(TS/Berbagai sumber)




loading...

0 Response to "Arief Yahya, Menteri Pariwisata Dari Banyuwangi"