SINERGI DENGAN PHKA DAN PERHUTANI, PEMKAB BANYUWANGI FOKUS GARAP ECOTOURISM


Wisata ecotourism di Banyuwangi.
Keseriusan Pemkab Banyuwangi garap sektor wisata ecotourism terus berlanjut. Langkah penandatanganan nota kesepahaman dengan Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) serta Perum Perhutani terkait pengembangan kawasan pariwisata di wilayah Banyuwangi terus digeber.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis Perum Perhutani, Tedjo Rumekso menuturkan, diantara kabupaten/kota lain, Kabupaten Banyuwangi dinilai fokus dalam pengembangan wisata alam berbasis kerakyatan. 

Untuk mengimbangi kinerja Pemkab Banyuwangi, beberapa lokasi wisata baru atau yang sedang berkembang, seperti di kawasan Taman Naional Alas Purwo dan Taman Nasional Meru Betiri akan diatur lebih mengerucut terkait tata ruang zona wisata.

Hal itu menurut Tedjo penting dilakukan, supaya rencana kerjasama di dalam aktivitas Perhutani bisa bersinergi dengan kegiatan Pemkab Banyuwangi khususnya dengan konsep ecowisata.

"Kerjasamanya lebih pada pengaturan zonasi wisata dan tata ruang. Kita tentu akan berbagi peran antara Pemkab Banyuwangi, Perhutani dan masyarakat. Nah ini masih embrio dan merupakan tantangan besar sekarang bagaimana bisa menata ruang di sana," ungkap Tedjo Rumekso di Pendopho Sabha Swagata Blambangan, Jumat (16/5/2014).

Lokasi pengembangan wisata seperti di pantai Pulau Merah, Kecamatan Pesanggaran dan Pantai Bedul, Kecamatan Tegaldlimo, kata Tedjo, menjadi salah satu sasaran utama. Terlebih lagi di Pulau Merah yang miliki luasan total lahan mencapai 45 hektar itu akan dikembangkan sejumlah fasilitas seperti dormitory dan art corner.

Namun tak hanya dua lokasi itu saja, Perhutani juga siap bersinergi dengan Pemkab Banyuwangi untuk kembangkan kawasan wisata ecotourism lainnya.

"Kita garap dulu Pulau Merah dan Pantai Bedul. Yang jelas sekarang kita godok formula bagaimana bisa bersama mewujudkan Pulau Merah dan Pantai Bedul menjadi wilayah wisata yang bisa memberikan kesejahteraan bagi penduduk sekitarnya. Bisa juga memungkinkan perluasan pengembangan wisata dengan wilayah milik Perhutani yang lain," jelasnya.

Tanggapan positif dari Perhutani disambut antusias oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Langkah kerjasama dengan Dirjen PHKA dan Perum Perhutani itu merupakan terobosan pertama di Indonesia, terlebih lagi geografis Banyuwangi yang 45 persen merupakan kawasan hutan.

Menurutnya, upaya itu sebagai salah satu langkah inovasi membangkitkan pariwisata yang selama ini selalu mentok dengan pembatasan regulasi. Dengan mengusung konsep ecotourism, Bupati Anas yakin secara jangka panjang langkah ini akan menimbulkan efek positif bagi pertumbuhan perekonomian berbasis masyarakat.

"Selama puluhan tahun wisata kita ini idola, dan selalu mentok kita nggak nemu cara pengelolaan. Sekarang Perum Perhutani mengapesiasi langkah Banyuwangi karena dianggap berinovasi untuk memanfaatkan aspek alam yang ada di hutan dan itu belum dimanfaatkan oleh kehutanan," ujar Bupati Anas.

Dalam pertemuan itu, Bupati Anas juga mengajukan kawasan wisata Pantai Watudodol dan Air Terjun Lider untuk dikelola bersama. Pemkab Banyuwangi juga siapkan ramuan khusus yang dijuruskan untuk meningkatkan fasilitas akses menuju tempat wisata.

"Saya minta kemarin watudodol untuk kita kelola bersama, air terjun lider juga, sehingga selalu ada progress. Namun yang terpenting adalah fasilitas akses menuju tempat wisata itu bisa ditingkatkan," pungkasnya.

Detik.com

loading...

0 Response to "SINERGI DENGAN PHKA DAN PERHUTANI, PEMKAB BANYUWANGI FOKUS GARAP ECOTOURISM"