Haidi Bing Slamet, Maestro Biola Dari Desa Kemiren


Haidi Bing Slamet, maestro pembuat biola dari Banyuwangi.
Tak semua seniman bisa membuat alat musik. Sedikit dari yang langka itu adalah Haidi Bing Slamet, warga desa Glagah, Kecamatan Kemiren, Banyuwangi Jawa Timur. Selain piawai menggesek biola serta pernah menjadi duta seni internasional, seniman lokal itu mampu membuat biola. Hasilnya tak kalah bersaing dengan biola buatan pabrikan, bahkan memenuhi pesanan dari mancanegara.

Dengan kemampuannya bermain biola, Haidi tidak hanya pernah tampil di tingkat lokal kabupaten atau nasional saja, tetapi dia pernah berkesempatan untuk menunjukkan kebolehannya di dunia internasional, yakni di benua Eropa tahun 2010 yang lalu. Tepatnya di Prancis selama sekitar 16 hari. Selama lebih dari dua minggu di negeri asal Pemain Sepakbola Zinedine Zidane itu, dia bersama tim berkunjung ke 5 kota, diantaranya Paris, Lyon dan Marseille untuk mempromosikan kesenian Banyuwangi ke dunia internasional. Meski tak pernah mengenyam sekolah musik, namun bakatnya terasah sejak usia dini dari almarhum ayahnya, Buhari.
Haidi sedang memainkan biolanya.
Istimewanya lagi, Haidi juga mampu membuat biola. Keahliannya itu bermula sepuluh tahun lalu, dari kegemarannya memperbaiki biolanya yang rusak. Ia pun tergelitik membuat biola sendiri. Setelah berulangkali berhasil membongkar dan memasang biola buatan pabrikan.

"Saya dulu beli biola terus saya bongkar dan saya coba membuat cetakan biola. Setelah itu saya coba bikin biola sendiri," ujarnya sambil menunjukkan biola perdananya yang tak dijual.

Edy menekuni pekerjaan membuat biola ini karena keterpaksaan, lantaran pembuat biola di Banyuwangi meninggal dunia. Jika beli pun, Edy mengaku terlalu mahal. Berbekal kenekatan membongkar biola satu-satunya itu, akhirnya Edy menerima banyak pesanan. Untuk saat ini, kata Edy, minat pembelian biolanya meningkat. Dirinya mengaku kewalahan lantaran banyaknya pesanan dari Banyuwangi maupun luar Banyuwangi bahkan luar negeri.

"Sudah banyak pesanan yang saya buat. Yang paling jauh dari Prancis, turis datang ke rumah minta dibuatkan biola dari serpihan kayu yang disatukan, sulitnya minta ampun,"tambahnya.
Untuk bahan baku biola, Edy mengaku memilih kayu yang bagus. Mulai dari kayu jati, mahoni, sentul, dan ijoan. Terkadang Edy mencari kayu eben yang banyak tumbuh di Sulawesi. Biasanya, untuk bahan biola atau tabungnya, Edy memilih kayu yang tidak padat seratnya, sementara untuk kayu kerasnya digunakan untuk aksesoris dan papan senar.

"Kayunya harus pilihan. Jika tidak bunyi biolanya tidak enak. Untuk kayu eben sulit dicari, tapi di Banyuwangi ada gantinya dengan menggunakan kayu sonokeling dan kayu laban," ujar pria berjambang ini.

Sementara untuk alat geseknya, Edy mengaku membuatnya dari senar pancing biasa. Sebab, dulu alat gesek menggunakan ekor kuda. Prosesnya dimulai dari memotong kayu sesuai pola badan biola. selainjutnya dirakit lalu dihaluskan hingga tampak indah seratnya.

Setelah senar terpasang dan hasil nadanya pun sesuai, biola siap memasuki proses akhir. Haidi yakin, biola  buatannya bisa bersaing karena harganya lebih murah namun awet.

Untuk harga, Edy mematok harga Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta rupiah per biola buatannya. Selama sebulan, Edy bersama dengan 4 orang tukang kayu dari desa-nya membuat 8 biola. Minimnya jumlah biola yang dibuatnya, lantaran rumitnya pengerjaan biola dan saat ini Edy bersama rekannya masih menggunakan alat tradisional. "Omzet perbulan bisa sampai 5 juta. Sisanya adalah ongkos tenaga kerja dan bahan," tambahnya.

Bagi yang berminat dengan biola buatan Haidi, bisa menghubunginya langsung di 082301003977 atau di 085746132744.

MAHIR MERACIK KOPI DAN MENGAJAR BIOLA


Haidi adalah figur yang serba bisa. Selain seniman sekaligus pembuat biola, dia juga punya keahlian lain dalam hal meracik kopi. Di Sanggar Genjah Arum, Kemiren, Haidi sering mengajarkan cara menyangrai, menumbuk, hingga menyeduh kopi kepada para tamu yang berkunjung.
Selain itu, ia juga masih punya kesibukan yang lain, yaitu melatih anak-anak di desanya agar mahir memainkan biola. Setiap hari ada 3 sampai 5 anak-anak usia 7 sampai 15 tahun belajar biola. Bahkan jika berkenan pun, orang yang memesan biolanya juga akan diajari memainkan biola.

"Itu service saya kepada pelanggan. Tapi kalau anak-anak kecil ini agar ada penerus pemain biola di Banyuwangi, khususnya pemain musik di sini," tandas pria lajang ini.

Tidak salah kalau dikatakan, Haidi Bing Slamet adalah sosok seniman yang komplet!

(berbagai sumber)


loading...

0 Response to "Haidi Bing Slamet, Maestro Biola Dari Desa Kemiren"