Banyuwangi Mulai Menjadi Jujugan Pertemuan Tingkat Nasional


Jujugan pertemuan tingkat Nasional di wilayah Jawa Timur sekarang tidak hanya didominasi Surabaya dan Malang saja. Trend itu rupanya sudah bergeser dengan menempatkan Banyuwangi menjadi tujuan utama beberapa kegiatan besar.

Salah satunya adalah kegiatan nasional workshop kajian implementasi kurikulum 2013 di Madrasah, yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama RI di Hotel Ketapang Indah, Rabu (7/5/2014).

"Workshop kami selenggarakan di tiga wilayah yang dianggap mewakili seluruh Indonesia. Workshop pertama di Palembang mewakili wilayah barat, workshop yang kedua wilayah tengah sengaja kami pilih Banyuwangi. Untuk wilayah timur workshop nanti akan diadakan di Banjarmasin.” kata Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI Prof. Dr. H. Machasin, MA, Rabu (7/6/2014).

Dipilihnya Banyuwangi sebagai tempat workshop, kata Machasin, karena Banyuwangi kini mulai berkembang. Lokasi Banyuwangi yang terisolir karena dikelilingi gunung, hutan dan laut tidak membuatnya tertinggal, justru dianggap menjadi daerah paling cepat pertumbuhannya di Jawa Timur dan paling maju untuk wilayah tapal kuda.

Sementara itu terkait dengan kegiatan workshop, tambah Machasin, pesertanya adalah perwakilan guru Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah dari Kabupaten Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember dan Jembrana.

"Tujuan workshop untuk melakukan evaluasi kesiapan Madrasah melaksanakan kurikulum 2013 terutama untuk pendidikan agama dan pelajaran Bahasa Arab," tandasnya.

Sementara, Bupati Abdullah Azwar Anas, menyampaikan penghargaan kepada Kementrian Agama atas penyelenggaraan workshop di Banyuwangi. menurut Bupati, saat ini, Banyuwangi memang tengah berbenah dan berkembang.

Posisi Banyuwangi yang terisolir dan jauh dari pusat kota maupun pemerintahan, telah dibuka melalui pengoperasional penerbangan komersil di Bandara Blimbingsari. Ekonomi kerakyatan juga terus didorong tumbuh.

"Pendapatan perkapita Banyuwangi kini lebih dari Rp 21 juta/ kapita, lebih tinggi dari Malang yang Rp 19,6 juta/kapita. Sementara untuk mencapai pendidikan berkarakter penerapan kurikulum harus didukung oleh kebijakan di luar sekolah yang dikeluarkan oleh pemerintah ” urai Anas.

Kabupaten Banyuwangi berusaha melindungi anak-anak muda generasi penerus dengan beberapa kebijakan yang diantaranya kurang polulis. Seperti pelarangan pendirian mal sebelum mencapai target angka IPM. Boleh pun harus didaerah pinggir tidak di tengah kota. Pelarangan pendirian hotel melati dan hanya membolehkan hotel minimal bintang tiga.

"Ini dilakukan untuk melindungi generasi muda dari sikap konsumtif, pergaulan bebas dan pencapaian target masyarakat bersih dan cerdas," tandasnya.

Detik.com

loading...

0 Response to "Banyuwangi Mulai Menjadi Jujugan Pertemuan Tingkat Nasional"