BANYUWANGI ANDALKAN 3 SEKTOR EKONOMI UNTUK TEKAN JUMLAH TKI



Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas berupaya menekan jumlah TKI yang bekerja di luar negeri. Para TKI memilih bekerja keluar negeri pasalnya menganggap wilayah daerah tempat tinggalnya tidak produktif.

Namun Bupati Anas optimis dengan perkembangan ekonomi Banyuwangi yang signifikan, ke depan jumlah TKI asal Banyuwangi makin menurun. Beberapa sektor pemicu perekenomian baik dari hulu dan hilir sedang dikebut. Apa saja sektor itu?
Anas : Semua butuh proses, tapi saya ingin proses yang cepat

1. Sektor Pertanian

Saat ini Bupati Anas sedang menaruh perhatian serius di bidang pembangunan sektor pertanian. Menurutnya, jika pembangunan pedesaan dan pertanian dilakukan berkelanjutan, ekonomi bakal semakin bergeliat. Bupati menuturkan jika pembangunan sektor pertanian perlu terus diupdate seiring teknologi pertanian yang semakin bertumbuh.

Bupati muda asal Dusun Karangdoro ini menuturkan, pembangunan sektor pertanian menjadi salah satu jawaban, mengingat TKI banyak berasal dari desa-desa.

"Penguatan sektor pertanian kami lakukan. Ada 600 titik irigasi kami bangun, saat ini juga sedang dibangun Waduk Bajulmati yang akan menopang 1.800 hektar sawah," kata Bupati Anas, Kamis (8/5/2014).

Tak hanya sektor penguatan irigasi tersier, jalan-jalan poros desa sebagai jalur distribusi produk pertanian seperti di Kecamatan Tegaldlimo, Purwoharjo, Bangorejo dan wilayah sentra pertanian lainnya. Sedikitnya tiap tahun Pemkab Banyuwangi membangun 300 Km jalan hotmix.
Selain pertanian tanaman pangan, sektor yang digenjot adalah hortikultura buah, seperti manggis, jeruk, dan buah naga. Dia mencontohkan, berkat pengembangan yang intensif, produksi manggis dari Banyuwangi meningkat pesat.

Luas panen manggis di kabupaten tersebut pada 2013 mencapai 1.590,5 hektar, meningkat sekitar 130 persen dibanding 2012 sebesar 691,54 hektar. Produksi manggis 2013 mencapai 20.199 ton, melonjak sekitar 132 persen dibanding capaian 2012 sebesar 8.651 ton.

"Kita akan garap terus. Harus diyakinkan bahwa sektor pertanian ini prospektif karena memang kenyataannya sejumlah petani bisa sukses. Tahun ini kita gelontorkan dana Rp 125 miliar untuk sektor pertanian," jelas Anas.

Di sektor pertanian sub sektor perkebunan, pengembangan tanaman tebu diintensifkan untuk menyambut berdirinya pabrik gula terbesar di Indonesia yang kini dalam proses pembangunan di Banyuwangi oleh Konsorsium BUMN. Sedangkan untuk kolaborasi hasil pertanian milik perkebunan rakyat, Bupati Anas siap menggandeng industri retail besar untuk saling bersinergi.

"Kita juga buka gerbang untuk men-direct kan sektor micro dengan retail besar, sehingga hasil perkebunan rakyat Banyuwangi bisa naik kelas," pungkasnya.

2. Sektor Perikanan

Subsektor perikanan di Banyuwangi juga sedang digairahkan. Sejumlah program revitalisasi dan program 10 ribu kolam juga sedang digalakkan. Bupati Anas mencatat jika kini produksi perikanan budidaya dan tangkap meningkat. Jika pada 2012 sebesar 21.760 ton, ditahun 2013 mencapai 22.748 ton.
"Sementara perikanan tangkap jumlah produksinya pada 2013 sebesar 49.539 ton, naik dibanding 2012 sebesar 44.570 ton," ungkap Anas.

Sementara program gerakan 10 ribu kolam yang ditargetkan bisa diselesaikan pada akhir 2015, nampaknya akan 'gagal'. Sebab kenyataannya target itu melampaui batas.

"Padahal goal awal kami ditahun 2014 ada 8 ribu kolam, kenyataannya program ini di apresiasi oleh masyarakat. Kini gerakan 10 ribu kolam pekarangan sudah mencapai 9.700 kolam. Ini jadi alternatif meningkatkan konsumsi ikan sekaligus jaring pengaman kesejahteraan masyarakat. Ada banyak jalan, kami akan terus dorong semua strategi agar lapangan kerja makin banyak," kata Anas.

3. Sektor Industri

Di Banyuwangi, ada sektor wilayah Kampe Industrial Estate dan industri pariwisata eco tourism yang sedang bertumbuh subur. Bupati Anas mencontohkan, investasi yang masuk di Banyuwangi pada tahun 2013 mencapai Rp 3,2 triliun, atau meningkat hingga 175 persen dibanding tahun 2012 yang sebesar Rp 1,19 triliun.

Pengembangan kawasan industri dan terus menggeliatnya sektor pariwisata juga akan menjadi pilar bagi terciptanya banyak lapangan kerja. Menurut Bupati Anas, jika ramuan strategi itu membawa hasil dengan penurunan kemiskinan dan pengangguran. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Banyuwangi sebesar 3 persen, berada di bawah rata-rata TPT Jawa Timur yang sekitar 4 persen.

"Jadi penyakit ekonomi makro itu ada, yaitu kemiskinan dan pengangguran. Kalau ekonomi tumbuh bisa menghasilkan dampak pada penurunan kemiskinan dan pengangguran, itu artinya pertumbuhan berkualitas, pertumbuhan inklusif yang dirasakan merata," imbuh Anas.

"Perkembangan daerah yang semakin baik diharapkan bisa meningkatkan perekonomian dan membuka banyak lapangan kerja. Ke depan, angkatan kerja di Banyuwangi bisa terserap di tingkat lokal saja, tidak perlu sampai merantau ke luar negeri. Industri tumbuh, pariwisata bagus, pertanian juga meningkat," papar Anas.

Jumlah penempatan TKI asal Banyuwangi di luar negeri terus menurun sejak 2011 dari 9.918 orang menjadi 7.957 orang.

"Saya sering bilang, tidak bisa seperti main sulap untuk menurunkannya. Kita bangun daerah secara berkelanjutan, ke depan makin banyak lapangan kerja di Banyuwangi, sehingga warga bisa berwirausaha atau bekerja di daerahnya sendiri. Semuanya butuh proses, tapi saya ingin proses yang cepat," tutup Anas.

Detik.com

loading...

0 Response to "BANYUWANGI ANDALKAN 3 SEKTOR EKONOMI UNTUK TEKAN JUMLAH TKI"