ULAMA TIMUR TENGAH KAMPANYAKEN DERADIKALISASI DI BANYUWANGI


 Konferensi internasional yang diprakarsai International Conference of Islamic Scholars (ICIS) hari ini digelar di Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo.

Konferensi itu dihadiri perwakilan ulama dari mancanegara termasuk negara-negara Timur Tengah, diantaranya Syeikh Ali Jumah (Mesir), Syeikh Ahmad Badrudin Hassoun (Syria), Dr. M. Yisif (Maroko), Syeikh Abdul Karim Dibaghi (Aljazair), Syeikh Mahdi Bin Ahmad Assumaidi (Irak). Selain itu, hadir intelektual Mesir Dr Moh Imaroh dan kolumnis harian Al Ahrom Mesir, Fahmi Huawaidi.

Event internasional itu sebagai upaya menekan tumbuhnya radikalisme yang berujung pada tindakan terorisme. Para ulama Timur Tengah bersama Sekjen ICIS KH Hasyim Muzadi memilih menginap dan bertemu wartawan di Banyuwangi sebelum acara resmi digelar di Situbondo.

"Terus terang kami prihatin dengan masih maraknya radikalisme dalam satu dekade terakhir. Di sini kami bersama para ulama-ulama ahlusunnah wal jamaah terus menyebarkan nilai-nilai Islam moderat," ujar Sekjen ICIS KH Hasyim Muzadi di Pendopo Banyuwangi, Sabtu (29/3/2014) pagi.

Mantan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (NU) tersebut mengatakan, radikalisme dan terorisme harus dilawan karena justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang sejatinya adalah rahmat bagi seluruh alam.

"Kami ingin meneguhkan kembali pemikiran Islam moderat di kalangan umat Islam di Indonesia, khususnya kaum Nahdliyin," kata dia.

Selama ini, menurut Hasyim, pemerintah hanya menekan terorisme dengan solusi pada aspek hilir, yaitu penangkapan para pihak yang diduga terlibat jaringan teroris. Padahal, aspek hulu, yaitu pemahaman terhadap Islam yang ramah tidak kalah penting.

"Karena itulah, kami getol mengampanyekan Islam yang moderat, termasuk bersama para ulama Timur Tengah ini, kami akan ke beberapa daerah lagi untuk dialog dan meneguhkan paham Islam yang menebarkan rahmat bagi semua," jelas Hasyim.

Di Banyuwangi, para ulama Timur Tengah bertemu dan berdiskusi dengan para tokoh agama, aktivis, dan intelektual setempat.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menambahkan, deradikalisasi menjadi salah satu isu penting dalam kehidupan umat beragaman di Tanah Air. Tidak hanya berdampak pada timbulnya korban jiwa, aksi radikal dan terorisme juga berimbas pada retaknya keutuhan bangsa serta membuat citra Islam tercoreng,

"Terorisme bisa meretakkan bangunan kebangsaan kita. Dari Banyuwangi kami mendorong kampanye Islam yang sejuk dan menyejukkan bagi semua," ujar Anas yang juga ketua umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (NU) Jatim tersebut.

Menurut Anas, upaya melakukan deradikalisasi harus dilakukan secara terintegrasi. Tidak bisa asal menyalahkan pihak-pihak yang dinilai radikal dan terlibat aksi terorisme. Upaya deradikalisasi juga harus dilakukan secara sejuk dan tidak tendensius dalam memojokkan pihak-pihak tertentu. Sehingga, upaya deradikalisasi tidak malah membuat konflik baru yang menghadap-hadapkan kelompok moderat versus kelompok radikal.

"Dari sisi hulu, mulai dari pemahaman agama sampai masalah-masalah keadilan sosial-ekonomi juga harus dituntaskan, sehingga bibit-bibit radikalisme bisa ditangkal," jelas Anas.

Di Banyuwangi, secara rutin digelar pertemuan para tokoh agama yang melibatkan seluruh elemen, mulai dari NU, Muhammadiyah, LDII, hingga organisasi lain. Pertemuan lintas agama juga rutin dilakukan per tiga bulan. Pertemuan itu digelar untuk menyatukan tekad mewujudkan kehidupan yang saling menghormati.

"Sehingga semua rukun dan guyub," pungkas Anas saat mendampingi KH Hasyim Muzadi.

Detik.com

loading...

0 Response to "ULAMA TIMUR TENGAH KAMPANYAKEN DERADIKALISASI DI BANYUWANGI"