LOMBA NGINANG MERIAHKAN FESTIVAL KEMIREN


Tradisi mepe kasur atau menjemur kasur merupakan acara bersih desa adat desa Kemiren, Banyuwangi
Warga desa wisata Using di Desa Kemiren Kecamatan Glagah, Banyuwangi menggelar acara selamatan desa, Minggu (6/10/2013). Acara selamatan desa itu juga menjadi puncak acara Festival Kemiren yang dilakukan selama tiga hari sejak Sabtu (5/10/2013) hingga Senin (7/10/2013).

Selamatan desa dilakukan sejak pagi. Acara dimulai dengan 'Mepe Kasur' alias menjemur kasur (tempat tidur). Mepe kasur dimulai sejak pukul 07.00 WIB hingga sinar matahari meredup.
Tradisi mepe kasur di Kemiren merupakan tradisi yang unik. Sebab, bukan hanya sekedar menjemur kasur. Cara menjemur kasur memang tidak berbeda dengan di tempat lain. Kasur di tempatkan di depan rumah atau pinggir jalan, di bawah teriknya matahari.

Namun menjadi unik karena kasur itu dijemur secara bersamaan. Karenanya di sepanjang kiri dan kanan jalan desa Kemiren terlihat kasur-kasur dijemur.Kasur yang dijemur juga kasur khusus. Sebab warnanya khas Kemiren yakni abang cemeng. Abang dalam Bahasa Indonesia berarti merah dan cemeng berarti hitam.
Abang cemeng merupakan bahasa Using. Sisi atas dan bawah kasur kapuk itu berwarna hitam, sedangkan kelilingnya berwarna merah.

Mulyoso, seorang warga setempat menjemur tiga kasur abang cemeng milik keluarganya. Mulyoso tidak mengetahui makna kasur abang cemeng itu.
"Karena saya bukan asli Kemiren, istri saya yang asli sini. Namun karena saya hidup di sini, maka saya mengikuti tradisi desa ini," ujar Mulyoso. Dia mempunyai kasur abang cemeng ketika menikahi istrinya puluhan tahun lalu. 

Mustaki, ketua panitia Festival Kemiren yang juga pemuda pemerhati adat Kemiren mengatakan, kasur abang cemeng merupakan kasur khas Kemiren. Pasangan suami istri yang baru menikah pasti mempunyai kasur abang cemeng.

"Cemeng atau hitam bertujuan menolak bala atau sial, sedagkan warna merah melambangkan kelanggengan dalam rumah tangga. Jadi setiap pasangan baru berharap terjauh dari sial dan rumah tanggannya langgeng dengan kasur abang cemeng," ujar Mastuki.

Tradisi mepe kasur dilakukan setiap awal bulan Dzulhijah dalam kalender Jawa dan Islam. Tetapi harus dilakukan di malam Senin atau Jumat.
"Jadi digelar setiap tanggal muda di bulan besar atau Dzulhijah, tetapi harinya malam Senin atau Jumat, alias hari Minggu seperti sekarang atau hari Kamis seperti tahun lalu," lanjut Mastuki.

Setelah mepe kasur, warga setempat nyekar ke makam buyut Cili, leluhur desa setempat. Setelah itu, acara arak-arakan barong dan arak-arakan obor blarak (daun kelapa kering).

Acara selamatan menjadi penutup acara. Dalam selamatan itu, warga desa membawa nasi tumpeng pecel pitik. Warga membawa nasi dan lauk khasnya yakni pecel pitik atau ayam.

LOMBA MENGUNYAH SIRIH


Lomba nginang atau mengunyah sirih di acara Festival Kemiren, Banyuwangi, 2013
Festival Kemiren juga dimeraihkan dengan lomban mengunyah sirih atau nginang, Minggu (6/10/20130). Lomba ini diikuti puluhan perempuan berusia lanjut. Mereka berkumpul di ruas jalan utama Desa Kemiren Kecamatan Glagah, untuk beradu ketangkasan meracik ramuan tembakau, sirih, kapur, gambir dan pinang lalu digosokkan ke gigi dan gusi masing-masing.

Menurut Ketua panitia, Mastuki, ada beberapa hal yang dinilai yaitu kelengkapan peralatan nginang, busana, tata cara menginang dan dialog sesama peserta melalui wangsalan atau berpantun ala Using.

"Wangsalan atau pantun khas Using ini masuk dalam penilaian karena juga bagian dari tradisi asli masyarakat Using di Desa ada Kemiren," ujarnya.

Mbah Marhani, salah satu peserta lomba nginang bercerita jika nginang membuat gigi kuat "Perempuan yang nginang itu tandanya sudah menikah. Kalau belum menikah tidak bileh nginang," katanya.


Festval Kemiren merupakan rangkaian acara bersih desa yang dilakukan pada minggu pertama di bulan Dzulhijjah penanggalan Islam dengan tujuan keselamatan dan keberkahan untuk seluruh desa.

tribunnews.com, Kompas.com

loading...

0 Response to "LOMBA NGINANG MERIAHKAN FESTIVAL KEMIREN "